Berbagi Perspektif Penganut “Kebatinan Perjalanan”: Filosofi Air yang Mengalir dalam Menebarkan Kebaikan

Sumsel Independen — Kepercayaan sering kali menjadi topik yang kontroversial dan memicu perdebatan di masyarakat. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kepercayaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, dalam sebuah wawancara di Youtube dengan judul “Kenalkah Kamu dengan ‘Kepercayaan’?” Jesika Putri Natasya seorang penghayat kepercayaan dari organisasi Kebatinan Perjalanan dari Jawa Barat, membagikan pengalaman dan pemahamannya tentang kepercayaan ini.

Di dalam video tersebut, Jesika menjelaskan bahwa Kebatinan Perjalanan memiliki filosofi yang diambil dari filosofi air yang mengalir dari hulu ke hilir. Filosofi ini menggambarkan bagaimana hidup kita dapat menjadi bermanfaat bagi sesama dan melestarikan alam sekitar kita.

“Ibadah dalam Kebatinan Perjalanan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Setiap aktivitas dan interaksi kita dengan orang lain dianggap sebagai bentuk ibadah. Misalnya, saat kita berinteraksi dengan seseorang, kita bisa mengucapkan doa agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Jesika.

Ia juga menekankan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, khususnya dalam Kebatinan Perjalanan, memiliki arti kata Tuhan yang menyeluruh. Meskipun dalam kepercayaan tersebut Tuhan sering disebut sebagai “Gusti” oleh masyarakat Sunda, tetapi ajaran mereka bukan berasal dari kitab suci, melainkan dari budaya spiritual yang merupakan kebiasaan untuk melakoni sifat-sifat Tuhan atau berketuhanan.

Dalam kepercayaan Kebatinan Perjalanan, terdapat beberapa perayaan yang penting, seperti hari kelahiran dan Tahun Baru Saka. Namun, menurut Jesika, surga dan neraka dalam kehidupan sehari-hari adalah cerminan dari bagaimana kita menyikapi sesuatu. Alam ini seperti surga yang menyediakan segala kebutuhan hidup kita, tetapi jika kita tidak bisa memanfaatkannya atau memiliki hati yang kotor, hidup ini dapat terasa seperti neraka.

“Masing-masing dari kita memiliki pilihan untuk menjalani hidup seperti di surga atau di neraka. Tergantung pada bagaimana kita menyikapi kehidupan ini,” jelas Jesika.

Meskipun setiap agama dan kepercayaan memiliki perbedaan dalam caranya, Jesika menekankan bahwa mereka semua mengajarkan kebaikan dan mencintai Tuhan. Perbedaan itu sendiri sebenarnya dapat saling melengkapi jika kita bersikap toleran dan saling menghormati.

“Janganlah kita khawatir dengan perbedaan agama atau kepercayaan. Setiap agama dan kepercayaan memiliki kelebihan tersendiri. Jika kita dapat menghargai perbedaan tersebut dan saling mendukung, maka kita bisa menjadi lebih baik sebagai individu dan sebagai masyarakat,” tambah Jesika.

Namun, dalam perjalanan menjalankan kepercayaan ini, Jesika mengalami beberapa kendala. Salah satunya adalah sikap diskriminatif dari seorang guru agama di sekolahnya. Guru tersebut menganggap Jesika sesat dan mengeluarkan pernyataan yang merendahkan di depan teman-teman sekelasnya. Jesika, yang menghormati guru, mencoba menjelaskan kepercayaannya kepada guru dan kepala sekolah. Setelah klarifikasi yang dilakukan oleh guru tersebut, mereka baru menyadari bahwa ajaran Kebatinan Perjalanan bukanlah ajaran yang sesat.

Jesika mengingatkan bahwa setiap agama dan kepercayaan pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan mencintai Tuhan. Jesika menjelaskan bahwa meskipun terkadang terjadi konflik antara kepercayaan yang berbeda, pada akhirnya tujuan yang sama tetap ada, yaitu mencapai kebaikan dan cinta terhadap Tuhan. Ia berharap agar lebih banyak orang dapat membuka pikiran dan menerima perbedaan dalam kepercayaan, sehingga bisa hidup harmonis dan saling menghormati satu sama lain.

Dalam perjalanan kepercayaannya, Jesika juga menemukan banyak hikmah dan pelajaran berharga. Ia belajar untuk lebih menghargai alam dan makhluk hidup di sekitarnya. Ia menjadi lebih sadar akan dampak dari setiap tindakan yang dilakukannya terhadap lingkungan dan manusia lainnya. Kepercayaannya mengajarkan Jesika untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lembut, dan bertanggung jawab.

Selain itu, Kebatinan Perjalanan juga memberikan Jesika kedamaian dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Ia merasakan kedekatan dengan alam dan mengalami keajaiban di sekitarnya. Melalui meditasi dan refleksi, ia menemukan ketenangan batin dan koneksi spiritual yang mendalam.

Pesan terakhir yang dibagikan oleh Jesika adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan material. Menurutnya, terlalu fokus pada aspek materialisme dapat membuat seseorang kehilangan makna sejati dalam hidup. Ia mengajak kita untuk menyadari kehadiran energi dan kekuatan yang lebih tinggi di sekitar kita.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesibukan dan keinginan material. Namun, kita perlu mengingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dengan menjaga keseimbangan antara hidup spiritual dan material, kita dapat mencapai kebahagiaan yang lebih mendalam,” kata Jesika.

Dalam Kebatinan Perjalanan, praktik meditasi dan kontemplasi dianggap penting untuk merenung dan menghubungkan diri dengan energi alam semesta. Melalui meditasi, seseorang dapat mencapai ketenangan batin dan kejernihan pikiran, serta memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan keberadaannya di dunia ini.

Jesika juga berbagi tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. “Alam adalah rumah kita bersama. Kita harus menjaga keberlangsungannya agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Dalam Kebatinan Perjalanan, kita diajarkan untuk hidup selaras dengan alam dan menjaga keseimbangan ekosistem,” ungkapnya. (pp)

The post Berbagi Perspektif Penganut “Kebatinan Perjalanan”: Filosofi Air yang Mengalir dalam Menebarkan Kebaikan first appeared on Sumsel Independen.